Kamis, 29 Desember 2011

Analisis Resepsi


Oleh: Hapsari Sulistyani


I. Pengantar
Premis dari analisis resepsi adalah bahwa teks media mendapatkan makna pada saat peristiwa penerimaan, dan bahwa khalayak secara aktif memproduksi makna dari media dengan menerima dan menginterpretasikan teks-teks sesuai posisi-posisi sosial dan budaya mereka (Tuchman 1994; van Zoonen 1994; Kellner 1995; MacBeth 1996 dalam CCMS:2002). Menurut McRobbie (1991 di dalam CCMS:2002) analisis resepsi merupakan sebuah “pendekatan kulturalis” dimana makna media dinegosiasikan oleh individual berdasarkan pengalaman hidup mereka. Dengan kata lain pesan-pesan media secara subjektif dikonstruksikan khalayak secara individual.

II. Khalayak Aktif
Menurut Althusser teks dengan memanfaatkan ideologi melakukan pemanggilan (healling) kepada subyek (khalayak sasaran) dan ketika khalayak sasaran tersebut terpanggil berarti dia telah memposisikan dirinya sebagai subyek dan siap pula tertundukkan dengan ritual-ritual tertentu. Karena itu penting untuk mengetahui bagaimana teks yang ada di media mencoba menggiring khalayak (subyek) ke arah pembacaan tertentu (Althusser:1984:47-49). Tetapi seperti sudah kita bahas sebelumnya, pembaca belum tentu melakukan pembacaan sesuai apa yang diinginkan oleh pembuat teks atau dengan kata lain khalayak melakukan interpretasi makna yang terdapat di dalam teks secara aktif.

Menurut Antariksa (www.kunci.or.id), para penggagas kajian resepsi mengatakan bahwa makna dominan yang diajukan oleh para produsen teks,  belum bisa dipastikan merupakan makna yang diaktifkan/diambil oleh para pembaca/khalayak/konsumen yang sesungguhnya. Artinya,  khalayak merupakan pencipta makna yang aktif dalam hubungannya dengan teks. Mereka menerapkan berbagai latar belakang sosial dan kultural yang diperoleh sebelumnya untuk membaca teks, sehingga khalayak yang memiliki kharakteristik berbeda akan memaknai suatu teks secara berbeda pula.

Peran aktif khalayak di dalam memaknai teks media dapat terlihat pada premis-premis dari Model encoding/decoding Stuart Hall yang merupakan dasar dari analisis resepsi:
·         Peristiwa yang sama dapat dikirimkan atau diterjemahkan lebih dari satu cara.
·         Pesan selalu mengandung lebih dari satu potensi pembacaan. Tujuan pesan dan arahan pembacaan memang ada, tetapi itu tidak akan bisa menutup hanya menjadi satu pembacaan saja: mereka masih polisemi (secara prinsip masih memungkinkan munculnya variasi interpretasi).
·         Memahami pesan juga merupakan praktek yang problematik, sebagaimanapun itu tampak transparan dan alami. Pengiriman pesan secara satu arah akan selalu mungkin untuk diterima atau dipahami dengan cara yang berbeda.

Pesan-pesan yang ada di media massa merupakan gabungan dari berbagai tanda yang kompleks, dimana sebuah “preferred reading”  telah ditentukan,  tetapi masih memiliki potensi diterima dengan cara yang berbeda dengan bagaimana itu di kirimkan. Di dalam studi resepsi preferred reading dimaknai sebagai makna yang secara dominan ditawarkan di dalam teks.

Teks media biasanya mengarahkan pemaknaan khalayak ke arah yang diinginkan. Untuk mengetahui makna dominan yang ditawarkan oleh media, kita bisa melakukan analisis struktur internal dari teks. Khalayak mungkin melakukan pembacaan alternatif yang berbeda dengan pemaknaan yang ditawarkan oleh media. Biasanya perbedaan pemaknaan muncul karena perbedaan posisi sosial dan/atau pengalaman budaya antara pembaca dan produsen media. Menurut Hall (di dalam O’sullivan et al. 1994), terdapat tiga tipe utama dari pemaknaan atau pembacaan khalayak terhadap teks media:

  • The dominant-hegemonic; terjadi jika seseorang atau sekelompok orang melakukan pemaknaan sesuai dengan makna dominan (preferred reading) yang ditawarkan oleh teks media.
  • The negotiated reading; mengakui legitimasi dari kode dominan, tapi mengadaptasi pembacaan sesuai kondisi sosial mereka.
  • The oppositional reading, yang menghasilkan pembacaan radikal terhadap teks atau yang berlawanan dengan preferred reading.

III. Makna dalam Studi Resepsi

Menurut Grossberg (CCMS, 2002), pendekatan penelitian khalayak baru menyoroti generalisasi makna yang terjadi di dalam penelitian komunikasi. Generalisasi makna merupakan asumsi yang sering digarisbawahi oleh model transmisi komunikasi, seperti Laswell atau Shannon-Weaver (sebagian besar didominasi oleh orang-orang Amerika, yang oreantasi politiknya liberal-pluralist) dimana transmisi makna dari pengirim kepada penerima adalah suatu proses yang relatif tidak bermasalah. Pengirim mengirimkan makna melalui simbol yang ditransmisikan kepada penerima, yang kemudian membawa makna itu keluar kembali.

Pendekatan semiotik memandang makna dengan sedikit berbeda. Pendekatan semiologis melihat makna sebagai konstruksi sosial. Kalau kita mengikuti pendekatan ini sampai kepada kesimpulan logis yang diambil, akan muncul pertanyaan sejauh mana kemungkinan untuk mengklaim bahwa makna-makna itu ada di dalam tanda-tanda yang kita gunakan. Tetapi tidak benar juga jika kita tidak melihat makna yang ada di dalam teks itu sama sekali dan lebih mementingkan bagaimana makna dikonstruksi pada titik temu antara teks dengan pembaca. Kondisi seperti itulah yang disoroti oleh pendekatan baru dari penelitian khalayak.

Teks-teks di dalam media memang polisemik,  memiliki banyak penekanan, dan makna yang muncul tidak natural. Pendekatan baru di dalam penelitian khalayak adalah merupakan koreksi yang berguna terhadap kecenderungan dari beberapa analisis semiotik yang berasumsi bahwa makna itu terdapat di dalam teks. Penelitian ini juga merupakan koreksi dari kecenderungan beberapa pengikut “political economy” media yang berasumsi  bahwa pemilik organisasi media memiliki  kekuatan ideologis, tetapi beberapa analisis resepsi secara simpel mengabaikan detail dari khalayak menuju kesimpulan yang tidak kritis  bahwa khalayak memaknai sesuatu secara berbeda.  Kesimpulan seperti itu tidak memadai karena peneliti seharusnya juga melihat mengapa khalayak memaknai sesuatu secara berbeda, fakto-faktor psikologis dan sosial apa yang mempengaruhi perbedaan tersebut, dan konsekuensi sosial apakah yang muncul?. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlu diinvestigasi. Kritik lain yang muncul terhadap resepsi analisis adalah kecenderungannya untuk mengklaim bahwa pembacaan yang menyimpang otomatis oposisi atau berlawanan, padahal budaya dan penerapannya tidaklah oposisi biner. Kita butuh riset lebih lanjut untuk melihat bagaimana beberapa dari pembacaan yang muncul itu menentang atau berlawanan sedangkan beberapa pembacaan yang lain tidak. 

Bagaimanapun pada analisis akhir, sulit dipercaya bahwa sebuah penelitian diadakan pada sebuah kekosongan politik. Penghargaan terhadap kekuatan khalayak untuk interpretasi sepertinya merupakan suatu bentuk perlawanan yang mengalihkan kita dari isu sentral mengenai bagaimana interpretasi yang dilakukan sehari-hari dipengaruhi oleh dominasi kapitalisme global. Tahanan dari Stalin menato slogan anti Stalin di kulit wajah mereka. Tato tersebut kemudian dipotong dan kulitnya dikelupas terus sampai tato itu hilang, menurut Solzhenitzyn salah satu tahanan tersebut dikenal sebagai The Stare (melotot) karena sangat sedikit kulitnya yang tertinggal sehingga dia tidak dapat memejamkan mata. Perlawanan, ya, dan pada sebuah skala heroik, tetapi studi kultural dalam bahaya jika memfokuskan terlalu dekat pada heroisme dan gagal untuk melihat secara detail apa yang menyelubungi heroisme tersebut.

IV. Contoh Penelitian Resepsi
Morley pada tahun 1980 melakukan peneitian mengenai pemaknaan terhadap siaran Nationwide (dalam CCMS, 2002). Morley meneliti pemaknaan tersebut pada orang-orang yang berada pada kelas sosial yang sama. Tetapi ternyata kelompok yang memiliki kelas sosial yang sama tersebut memunculkan sub-kelas yang memaknai program Nationwide tersebut secara berbeda. Morley menemukan, manajer bank, contohnya jarang berkomentar mengenai isi aktual dari program tersebut tetapi tampaknya mereka lebih senang berbagi mengenai kerangka logika dari asusmsi yang dibuat oleh Nationwide. Untuk kelompok yang lain aspek isi program adalah hal yang sangat penting. Sebuah kelompok manajer training melihat ada item-item program yang bisa bermanfaat terhadap organisasi. Sebuah kelompok mahasiswa seni secara khusus tertarik pada metode-metode yang dipakai oleh pembuat program untuk mengkonstruksi wacana Nationwide.

Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun di dalam membuat teks atau produser sudah mempertimbangkan karakteristik khalayak sasaran sehingga mereka menggunakan mitos-mitos tertentu yang dianggap sesuai untuk mengarahkan pembacaan khalayak ke arah yang dia inginkan. Tetapi ternyata hal tersebut tidak dapat menghindarkan pembacaan yang berbeda dari mereka yang secara segmentasi seharusnya berada pada kelas sosial yang sama.

Ien Ang menyatakan analisis resepsi meneliti bagaimana khalayak mengkonstruksi makna keluar dari yang ditawarkan oleh media. Asumsi awal yang dikemukakan oleh Ien Ang, makna di dalam media bukanlah suatu yang tidak bisa berupah atau inheren di dalam teks. Media teks memunculkan makna hanya pada saat resepsi, adalah ketika teks itu di baca, di lihat atau di dengar. Dengan kata lain, khalayak dipandang sebagai produser makna, tidak hanya konsumen isi media, Mereka menginterpretasi teks media dengan cara yang sesuai dengan pengalaman subjektif yang berkaitan dengan situasi tertentu. Analisis resepsi tidak langsung ditujukan kepada individu yang mencoba memaknai sebuah teks tetapi juga makna sosial yang melingkupinya (Storey, 1993).

Senada dengan Ien Ang, Morley masih di dalam tulisannya mengenai penelitian khalayak, pada akhir tahun 1980-an, sebuah langkah lebih lanjut dari pengembangan studi khalayak, memfokuskan pada konteks domestik resepsi televisi di dalam keluarga, seringkali menggunakan metodologi etnografi dan memfokuskan pada perbedaan gender dan karakteristik menonton televisi di dalam keluarga.

V. Langkah-langkah Penelitian Resepsi
Analisis resepsi berargumen jika  khalayak berada dalam kerangka budaya yang sama dengan produser teks, maka pembacaan oleh khalayak terhadap teks kemungkinan masih sama dengan produksi tekstual. Sebaliknya, kalau anggota khalayak berada pada posisi sosial yang berbeda (dalam hal kelas atau gender, misalnya) dari para produsen teks, khalayak akan bisa memaknai teks itu secara alternatif atau berbeda (Antariksa, www.kunci.or.id).

Berikut ini adalah langkah-langkah penelitian resepsi:

1.      Identifikasi teks dan pertimbangkan tujuan dari analisis resepsi: kenapa teks itu dipilih dan kenapa teks tersebut perlu dianalisis dengan resepsi?.
2.      Pengumpulan data: metode pengumpulan data yang akan digunakan pada penlitian ini adalah wawancara mendalam. Subjek penelitian diminta untuk retelling mengenai teks yang sudah dikonsumsinya.
3.      Menganalisis preferred reading dari teks yang akan diteliti dengan melakukan analisis semiotik terhadap struktur internal dari teks.
4.      Analisis dan interpretasi data dari wawancara mendalam, pada penelitian resepsi tidak ada pembedaan yang absolut antara analisis dan interpretasi khalayak mengenai pengalaman media mereka. Data hasil dari wawancara dibuat transkrip, kemudian di buat kategorisasi berdasarkan tema-tema yang muncul pada pemaknaan yang dilakukan subjek penelitian (makna yang dimunculkan).
5.      Tema-tema yang muncul kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan diskursus yang meliputi proses pemaknaan, karakteristik individu, cara pemaknaan, sekaligus juga konteks sosial dan kultural yang melingkupi proses pemaknaan. Pada bagian ini tidak hanya analisis dari wawancara tetapi juga studi diakronik dengan menggunakan prinsip interteks dari analisis wacana, dimana wacana dari khalayak diinterpretasikan dengan mempertimbangkan konteks baik itu  wacana teks media maupun konteks sosial,  dan kondisi psikologis dari khalayak.
6.      Tema-tema yang muncul dibandingkan dengan preferred reading untuk kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kelompok pemaknaan; dominant reading, oppositional reading dan negotiated reading.

VI. Penutup
Penelitian resepsi merupakan perbandingan antara diskursus media dengan diskursus khalayak. Penelitian ini mempertimbangkan setting “context” historis dan kultural yang mempengaruhi pemaknaan. Sebagai respon dari studi tekstual, penelitian resepsi berpendapat bahwa khalayak media massa harus diteliti sebagai suatu kondisi sosial yang spesifik untuk dianalisis.

DAFTAR PUSTAKA

Althusser, Louis, (1984) Ideology and Ideological State Aparatuses, Verso, London

Antariksa, Politik, Teori, Metode, dan Medan Minat Kajian  Budaya, www.kunci.or.id retrieved 1 Desember 2006.

Cruz, Jon and Lewis, Justin, (1994) Viewing, Reading, Listening, Westview Press, Boulder.

O’Sullivan, Tom, (1994) Key Concept in Communication and Cultural Studies, Routledge, London.

Storey, John, (1993), An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture, Harvester Wheatsheaf, New York

Reception Analysis, http://www.cultsock.ndirect.co.uk/ MUHome/cshtml/index.html, Retrieved 8 Oktober 2002.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar